Bengkalis — Kasus meninggalnya seorang bayi laki-laki saat menjalani rujukan medis dari RS Permata Hati Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, menuju RS Awal Bros Pekanbaru, Riau, menjadi sorotan publik. Hingga berita ini diterbitkan, media belum memperoleh keterangan resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis terkait peristiwa tersebut.
Seorang bayi laki-laki dilaporkan meninggal dunia saat dalam perjalanan rujukan medis menuju RS Awal Bros Pekanbaru.Korban merupakan bayi dari pasangan Samosir dan istrinya. Rujukan dilakukan oleh RS Permata Hati Duri, sementara pihak yang dimintai klarifikasi antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis dan manajemen RS Permata Hati Duri.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat malam, 16 Januari 2026.Rujukan dilakukan dari RS Permata Hati Duri menuju RS Awal Bros Pekanbaru, Provinsi Riau.
Pihak keluarga menduga adanya keterlambatan dan pembiaran dalam penanganan medis sebelum proses rujukan dilakukan. Dugaan tersebut dinilai berkontribusi terhadap memburuknya kondisi bayi hingga meninggal dunia di perjalanan.
Ayah korban, Samosir, mengaku kecewa terhadap pelayanan rumah sakit.
“Kami sangat kecewa. Anak kami seperti tidak mendapat penanganan yang serius dan cepat. Padahal ini menyangkut nyawa,” ujarnya kepada wartawan.
Selain dugaan kelalaian medis, keluarga juga mempertanyakan biaya ambulans rujukan sebesar Rp1,5 juta yang dibebankan kepada mereka dan meminta agar pengelolaan dana operasional rumah sakit diaudit secara transparan.
Atas kejadian tersebut, keluarga meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis melakukan investigasi menyeluruh terhadap RS Permata Hati Duri. Mereka juga mendesak Bupati Bengkalis dan Gubernur Riau untuk turun tangan mengevaluasi manajemen rumah sakit agar kejadian serupa tidak terulang.
Tim media telah melakukan upaya konfirmasi kepada Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Hermanto, dengan mengirimkan permintaan tanggapan pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 11.21 WIB, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang disampaikan.
Konfirmasi juga dilakukan kepada Humas RS Permata Hati Duri, namun belum mendapatkan respons.
Keluarga korban berharap pemerintah daerah hingga pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Mereka menyinggung komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menjadikan sektor kesehatan sebagai prioritas nasional.
“Jika kesehatan rakyat adalah prioritas, maka kasus seperti ini tidak boleh dibiarkan. Kami hanya ingin keadilan dan kejelasan,” tegas Samosir.
Hingga kini, keluarga masih menunggu klarifikasi resmi dan langkah konkret dari instansi terkait. Media menegaskan pemberitaan ini disusun berdasarkan keterangan narasumber dan fakta lapangan serta tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi seluruh pihak terkait sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku(,Tim)
